Bingung, disorientasi, lelah setelah menempuh perjalanan darat sekitar 27 jam, sekitar jam 01.00 dini hari, kami tiba di ibu kota Republik Kalmikia, Elista.
![]() |
| Bendera Kebangsaan Republik Kalmikia |
![]() |
| Lambang Negara Kalmikia |
Kami langsung diantar menuju asrama universitas yang telah
sebelumnya dipersiapkan untuk kami. Staff kemahasiswaan universitas berpesan agar kami segera beristirahat--karena besok pagi sekitar jam 08.00 kami harus bersiap dan pergi ke universitas untuk melaporkan kedatangan kami.
Berhubung badan sudah amat lelah, tanpa buang waktu kami segera merebahkan tubuh kami di tempat tidur. Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun dan kebetulan kami membawa bekal kopi sachet yang kami bawa dari Jakarta, sehingga kami bisa minum kopi sambil menunggu kedatangan staff universitas di asrama kami.
Jam 08.00 , kami dijemput dan menungg bis yang akan membawa kami ke universitas. Tak lama bis datang. Tapi yang disebut
| Etnis Kalmikia dan rumah tradisional mereka (yurt) |
Sampai di universitas, Dayana--staff bagian kemahasiswaan universitas yang sebelumnya berkorespondensi selama ini, meminta paspor, kartu imigrasi (yang kami dapat dari petugas Imigrasi Bandar Udara). Prosedur biasa, karena setelah tiba di unversitas, visa kami harus diganti menjadi visa belajar yang berdurasi 1 tahun.
Setelah urusan beres, kami diantar ke kantor Bank untuk menukar bekal dollar kami yang tidak seberapa dan membuka rekening bank.
ORIENTASI
Begitu urusan selesai, kami mulai melakukan orientasi, sebelumnya kami sudah mengumpulkan informasi mengenai Elista; namun antara membaca dan hadir secara jasmaniah, sungguh pengalaman yang amat berdeda.
Meskipun statusnya adalah ibukota republik (setara dengan provinsi), populasi penduduk sekitar 104.000 ini boleh dibilang sepi, bahkan bila dibandingakan dengan kota-kota kabupaten di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Konsentrasi penduduk terlihat sekitar pusat kota, karena disini terletak gedung-gedung pusat pemerintahan kota dan republik, pasar, universitas. Selebihnya, jalan-jalan kota bisa dibilang lengang.
Arsitektur rumah--rumah susun gaya Uni Sovyet yang (nyaris) mengabaikan unsur estetika, namun mengedepankan fungsionalitas dan kekuatan ( dinding apartemen di Rusia rata-rata sangat tebal untuk melindungi penghuninya dari hawa dingin. ) berpadu dengan ornamen-ornamen Buddhis Kalmikia yang berwarna-warni ditambah bangunan-bangunan modern yang pelan-pelan muncul di berbagai sudut kota.
Kalmykia adalah satu-satunya "negara" Buddhis di benua Eropa. Buddhisme yang dianut mayoritas penduduk Kalmikia dan merupakan identitas nasional dibawa oleh nenek moyang bangsa Kalmikia, yaitu suku-suku nomaden dari dataran steppa Mongolia yang melakukan invasi militer ke daratan Rusia sampai melaju ke kota Moskow.
| Padang stepa Elista |
Saat pertama kali kami berinteraksi dengan etnis Mongol-Kalmikia, kami pikir, secara etnis, mereka sama dengan etnis penduduk TIongkok daratan; namun setelah kami amati baik-baik mereka memiliki keunikan tersendiri. Walaupun sama-sama bermata sipit, wajah penduduk Kalmikia, rata-rata lebar, dengan tulang pipi yang tinggi dan tegas serta tulang dahi yang lebar. Rata-rata mereka berkulit putih dengan postur yang tinggi.
PROSES PENDIDIKAN
Setelah menyelesaikan seluruh prosedur administasi plus pemeriksaan kesehatan , kami diizinkan mengikuti kegiatan akandemik di Fakultas Persiapan. Oleh dosen kurator (pembimbing akademis), istri saya langsung digabungkan dengan kelas yang berisi mahasiswa-mahasiswa asing penerima beasiswa pemerintaha Federasi Rusia. Sementara saya, diwajibkan mengikuti ujian saringan Bahasa Rusia. Atas keputusan penguji, saya digabungkan dengan peserta kursus B1 (tingkat intermediate--tingkatan kecakapan Bahasa Rusia yang terendah yang harus dimiliki calon mahiswa asing yang ingin melanjutkan perkuliahan di Rusia.)
Proses pendidikan dalam peikiran saya nyaris seperti "tancap gas pol". Tiap hari, kami belajar mulai dari jam 08.30 sampai 12.00, istirahat sebentar lalu lanjut jam 13-14. Pulang kuliah, kami masih harus mengerjakan PR. Belum lagi kewajiban membaca text book, latihan menulis, latihan mendengar ditambah kegiatan rumah-tangga (belanja, masak, mencuci, dll) yang juga menyita waktu dan tenaga. Kami memilih memasak secara teratur, selain untuk pertimbangan gizi dan selera tidak lepas juga dari alasan penghematan.
"Cobaan" kami tambah lengkap, karena di Kalmikia, nyaris tidak ada penduduk yang bisa berbahasa Ingris, sehingga dalam interaksi degan masyarakat setempat, kami harus mengoptimalkan kemampuan Bahasa Rusia kami yang pas-pasan. Tidak jarang, sebelum memulai percakapan, kami memperisapkan daftar kosa kata/cara mengungkapkan diatas kertas buram.
| Pagoda Buddhis
BERSAMBUNG
|

